Monday, October 15, 2012

M. Yazid Al Qahar: Robot Senjata Otomatis Buatannya Juara 1 Shooting Gallery di Robogames 2012, AS

tags: Muhammad Yazid Al Qahar , Robogames 2012 , robot DU116 SGR-V12 , Robot Senjata Otomatis , Unikom Bandung , Universitas Komputer ... thumbnail 1 summary
Yazid Al Qahar di indonesiaproud wordpress com Dalam hal pembuatan persenjataan canggih, Indonesia sebenarnya tidak kalah dengan negara-negara Barat. Indonesia memiliki talenta-talenta muda yang bisa membuat senjata canggih. Contohnya adalah Muhammad Yazid Al Qahar (20), mahasiswa jurusan Teknik Informatika, Universitas Komputer Indonesia (Unikom) Bandung,  yang mampu membuat robot senjata otomatis, DU116 SGR-V12.
Mengenai konsepnya, Yazid mengatakan bahwa robot tembak ini merupakan antirudal dalam sistem pertahanan negara. Maksud penciptaan robot ini, ketika ada rudal yang mau masuk dan menembak, antirudal ini akan menembak duluan sebelum rudal musuh sampai.
Berkat hasil karyanya, dia meraih juara 1 untuk kategori Shooting Gallery pada ajang Robogames di Amerika Serikat, April 2012.
“Waktu itu saya buat untuk bisa menembak target yang diam. Sekarang saya buat pengembangannya karena robot senjata otomatis ini bisa menembak target bergerak,” kata Yazid di kampusnya.

Robot senjata otomatis ini dibuat karena keinginannya mempermudah operasional tentara sehingga mengurangi jatuhnya korban saat terjadi kontak senjata, baik dalam perang maupun penyergapan teroris.
“Umumnya senjata dikendalikan manusia, kalau yang ini komputerisasi, secara otomatis mendeteksi target, mengarahkan, dan menembak otomatis. Tidak ada sentuhan tangan manusia secara langsung. Kalau programnya sudah jalan ketika pertama kali menembak, dia (senjata) otomatis akan menembak target seterusnya,” ujarnya.
robor-penembak buatan Yazid di indonesiaproud wordpress comCara kerja robot yang pertama kali dibuatnya itu sama seperti senjata biasa, namun pada senjata ciptaan terbarunya ini ditambah beberapa komponen seperti kamera (webcam) di bagian depan mulut senjata dan laser di bagian atas.
Karena beroperasi otomatis, maka semuanya disambungkan ke komputer, termasuk pelatuk. Untuk bisa menembak target bergerak, senjata disimpan di tempat yang dibuat seperti meja, lalu di bagian bawahnya dibuat seperti roda kecil sehingga bisa bergerak ke kanan dan kiri.
“Saya menggunakan sistem pengindraan teknik pengolahan citra, bagaimana robot dapat melihat seperti mata manusia. Gambar yang diambil kamera akan diolah, setelah didapatkan target, laser akan menyala dan sistem mengarahkan senjata ke target. Setelah dirasa tepat, baru ditembak,” jelas Yazid.
Dia mengakui akurasi senjata yang dibuatnya selama empat bulan itu cukup tinggi yaitu 90 persen. Dengan jarak tembak 2-3 m, 20 target bisa ditembak dalam sepuluh detik. Jadi, satu target hanya membutuhkan waktu setengah detik.
Meski bisa menggunakan senjata sungguhan, saat ini Yazid masih menggunakan senjata yang biasa digunakan untuk airsoft gun. Sementara itu, untuk meningkatkan kemampuan tembak, hanya perlu mengganti peralatan seperti penggunaan kamera dan software khusus.
“Selanjutnya saya ingin membuat senjata ini bisa bergerak sendiri, tidak hanya diam. Nanti akan dikembangkan sehingga bisa bedakan lawan dan kawan. Saat ini baru bisa membedakan benda bulat itu musuh, bentuk lain bukan,” katanya.
Selain jadi alat pertahanan negara, penemuan yang menelan biaya kurang dari Rp10 juta ini juga bisa jadi antirudal, sehingga kalau ada rudal yang masuk akan dihancurkan. Dengan berbagai keunggulan tersebut, Yazid berhasil meraih juara I dengan perolehan medali emas pada ajang INAICTA 2012.
Tidak Jadi ke Amerika Karena Nama
Di balik kemenangannya di Robogames 2012 di San Mateo, ada cerita menarik tentang Yazid yang tidak dapat ikut ke Amerika karena “nama”. Di kejuaraan robot internasional tersebut, Yazid optimistis robot karyanya,  DU116 SGR-V12, bisa bersaing dengan peserta lain dari berbagai negara.
Persiapan untuk kejuaraan sudah dilakukan secara matang, tapi harapan untuk bisa terbang ke Amerika Serikat memperagakan dan mempresentasikan karyanya pupus seketika.
Pasalnya baik visa maupun paspornya tidak juga dikeluarkan pihak Kedutaan Besar Amerika di Jakarta. Meski Yazid telah mengajukan pembuatan visa maupun paspor sejak awal Januari lalu. Namun nyatanya hingga menjelang keberangkatannya Mei 2012 visanya tidak kunjung keluar. Padahal milik rekan satu timnya hanya cukup satu hari langsung keluar.
Beberapa pihak termasuk rekan-rekannya menduga tidak keluarnya visa Yazid berkenaan dengan namanya, mengingat Amerika hingga kini masih phobia jika berkaitan dengan Islam, meski hanya sekadar nama saja.
“Visa sudah diajukan, tapi tak kunjung keluar. Akhirnya pasrah ketika visa tidak keluar dan tim lainnya harus berangkat ke Amerika. Mungkin ini sudah jalan takdir dari Yang Di Atas, tanpa menyalahkan nama yang sudah dikasih oleh orang tua saya,” kata Yazid.
Meski tidak bisa hadir untuk memperagakan robot karyanya, ia sangat senang ketika tahu robot karyanya berhasil menjadi juara 1.
Sumber: seputar-indonesia.com, jabar.tribunnews.com, hidayatullah.com